Selasa, 25 Juli 2023

PROSES GEOGRAFIS MEMPENGARUHI KERAGAMAN SOSIAL BUDAYA

 Siswa hebat,

Kali ini kita akan belajar materi IPS kelas 8 tentang Proses  geografis mempengaruhi keragaman sosial budaya. Apakah kalian sudah siap belajar?

Siswa hebat, 

Selain berpengaruh pada keragaman alam, proses geografis juga mempengaruhi keragaman sosial budaya. Apakah kalian pernah melihat perbedaan sosial budaya masyarakat di sekitar tempat tinggal kalian?  Perbedaan sosial budaya meliputi perbedaan nilai-nilai, norma, dan karakteristik suatu kelompok masyarakat. Budaya dapat berupa cara hidup masyarakat, cara berpakaian, adat istiadat, mata pencaharian, tata cara keagamaan, barang-barang yang dihasilkan masyarakat, dll. Masih ingatkah kalian tentang 7 unsur kebudayaan universal yang pernah kita pelajari saat kelas 7?

Perbedaan budaya dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain sejarah, keturunan, keyakinan dan faktor geografis. Faktor geografis itu dapat berupa isolasi geografis, kondisi iklim dan letak geografis. Proses geografis berpengaruh pada ke 7 unsur budaya yang berbeda antara daerah satu dengan lainnya.

Keragaman Bahasa Daerah di Indonesia

Bahasa adalah alat pengantar dalam berkomunikasi. Bahasa di setiap daerah berbeda dipengaruhi oleh adat istiadat, wilayah dan demografi.

Contoh bahasa daerah dan propinsi asal:

  • Bahasa Aceh : Aceh
  • Bahasa Jawa : Jawa Tengah dan Jawa Timur
  • Bahasa Sunda : Jawa Barat
  • Bahasa Madura : Jawa Timur
  • Bahasa Bali : Bali
  • Bahasa Melayu: Sumatra utara, Riau, Jambi,Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka belitung, Kepulauan Riau.
  • Bahasa Minangkabau: Aceh,Sumatra Utara, Sumatra Barat,Jambi,Riau, Bengkulu
  • Bahasa Sentani,Korowai, Tokuni,Awban, Biak, Serui, Arui, Kuri: Papua
  • Bahasa Sumbawa :NTB
  • Bahasa Bugis : Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah
  • Bahasa Makasar: Selawesi Selatan
  • Bahasa Muna: Sulawesi Tenggara
  • Bahasa Sasak, Bajo, Bima : NTB
  • Bahasa Buru, Lisabata, Luhu : Maluku
  • dll
Keragaman Mata Pencaharian Penduduk Indonesia
Mata pencaharian penduduk adalah untuk  memenuhi kebutuhan manusia.

  • Masyarakat di dataran pantai menggantungkan hidup pada sumber kelautan, seperti; nelayan
  • masyarakat di dataran tinggi: petani, pedagang, peternak, perkebunan,dll.Petani  menamam wortel, kentang, kopi, teh, tembakau, cengkih, dll.
  • Masyarakat di dataran rendah: petani umumnya menanam padi,tebu,palawija
  • Masyarakat di dataran rendah pedesaan mata pencaharian petani, sementara di perkotaan bertumpu pada bidang perdagangan, industri, pariwisata, transportasi, komunikasi,dll.
Keragaman Kesenian di Indonesia
Manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan fisik, tetapi juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikisnya. Oleh karena itu manusia menciptakan kesenian yang dapat dirasa dan didengar.
Contoh: Tarian daerah,seperti:
  • Tari Saman : Aceh
  • Tari Piring : Sumatera  Selatan
  • Tari Tor Tor : Sumatera Utara
  • Tari Joget Lambak : Riau
  • Tari Zapin : Kepulauan Riau
  • Tari Sekapur sirih : Jambi
  • Tari Ronggeng: DKI Jakarta
  • Tari Jaipong : Jawa Barat
  • Tari Gambyong : Jawa Tengah
  • Tari Jaran Kepang : Jawa Timur
  • Tari Serimpi : DI Yogyakarta
  • Tari Boran : Lamongan Jawa Timur, dll

Tari Boran dari Lamongan

Selain tarian daerah kita juga mengenal lagu-lagu daerah. Seperti; Bungong Jempa (Aceh), Butet (Sumut),  Ayam Den Lapeh (Sumbar), Soleram (Riau), Kicir-kicir (DKI Jakarta), Es Lilin (Jabar), Gambang Suling (Jateng), Rek Ayo Rek (Jatim), dll. Selain itu masih banyak bentuk kesenian yang lain, misalnya seni drama, seni rupa, upacara adat, dll.

Sistem Pengetahuan
Pengetahuan sangat berguna untuk melahirkan ide-ide baru dan kreatif. Tanpa ada pengetahuan maka budaya tidak akan tercipta apalagi berkembang. Sistem pengetahuan juga digunakan manusia untuk mempertahankan hidup.
Contoh:
Pengetahuan tentang alam sekitarnya, tumbuhan di sekitar, binatang di sekitar, zat, bahan mentah atau benda dalam lingkungannya, tubuh manusia, sifat dan tingkah laku manusia, ruang dan waktu, pengetahuan tentang astronomi, dll.

Sistem Organisasi Masyarakat
Manusia membutuhkan manusia lain dalam hidupnya, maka organisasi muncul untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial.
Contoh: kekerabatan

Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Manusia sekaligus dapat menciptakan dan menggunakan suatu alat. Manusia membuat dan menggunakan peralatan hidup untuk menyiasati lingkungan tempat tinggalnya. Dengan alat-alat yang diciptakan dan digunakan manusia dapat lebih mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.
Contoh peralatan hidup:
Alat-alat produksi, senjata, wadah, alat untuk menyalakan api, pangan, pakaian/perhiasan, tempat berlindung/rumah, dan alat-alat transportasi.

Sistem Religi
Unsur religi berperan meembentuk kepribadian  bangsa Indonesia yang lekat dengan agama. Oleh karena itu setiap perbuatan dan perkataan orang Indonesia sangat dihiasai oleh sistem kepercayaan dan religi.
Dalam mengkaji sistem religi ini tidak bisa dilepaskan dari emosi keagamaan yang merupakan perasaan dalam diri seseorang yang mendorong mereka untuk melakukan perilaku religius. Sistem religius dalam suatu masyarakat akan menimbulkan kebudayaan seperti tempat beribadah, waktu upacara keagamaan, alat untuk upacara keagamaan atau pemimpin acara keagamaan.
Contoh:
Berbagai agama di Indonesia yang menjadi landasan hidup manusia.

Demikian belajar kita kali ini, semoga bermanfaat
Salam dan bahagia.


Rabu, 28 Juni 2023

PEMBENTUKAN KARAKTERISTIK BUDAYA (KEBIASAAN) MASYARAKAT DAERAH

 Assalamualaikum

Apa kabar siswa hebat?

Berjumpa lagi  dengan materi pembelajara IPS kelas 7 semester ganjil. Kali ini kita akan membahas tentang Pembentukan Karakterisitik Budaya (Kebiasaan) Masyarakat Daerah.

Siswa hebat

Pasti kalian sudah sering mendengar istilah kebudayaan. Apa yang dimaksud kebudayaan? Secara umum budaya atau kebudayaan merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh bersama serta diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.

Budaya Indonesia

Berikut ini adalah pengertian kebudayaan menurut para ahli;

Edward B Tailor

Kebudayaan merupakan hal kompleks yang mencakup beberapa hal seperti kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat istiadat serta kemampuan yang dapat diperoleh manusia sebagai bagian dari kelompok masyarakat tersebut.

Selo Soemarjan dan Soelaiman Soemardi

Kebudayaan merupakan seluruh hasil karya, rasa, serta cipta dari masyarakat.

Ki Hadjar Dewantara

Kebudayaan adalah buah budi dari manusia yang muncul karena adanya hasil alam serta kodrat masyarakat. Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara juga bentuk dari kejayaan dari masyarakat yang mampu mengatasi kesulitan-kesulitan serta menjadi awal dari munculnya tata tertib di masyarakat.

Koenjaraningrat

Kebudayaan merupakan keseluruhan dari perilaku makhluk seperti manusia serta hasil yang dapat diperoleh makhluk tersebut melalui berbagai macam proses belajar serta tersusun dengan sistematis dalam kehidupan bermasyarakat.

Parsudi Suparlan

Kebudayaan didefinisikan sebagai pengetahuan manusia sebagai ciri makhluk sosial yang dapat digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasikan berbagai hal di lingkungan, sehingga menciptakan sebuah pengalaman. Menurut Parsudi Suparlan, kebudayaan juga merupakan sebuah landasan serta acuan seseorang dalam bertingkah laku.

Harjoso

Harjoso mendefinisikan kebudayaan dalam tujuh poin penting, sebagai berikut.

  •  Kebudayaan yang dimiliki oleh setiap berbeda dengan daerah lainnya.
  • Kebudayaan telah hadir sejak dahulu kala, serta dipertahankan dengan cara diajarkan secara turun temurun kepada generasi berikutnya.
  • Kebudayaan memiliki beberapa komponen di dalamnya yang terdiri dari sosiologis, biologis serta psikologis keberadaan manusia di berbagai daerah.
  • Kebudayaan dapat disebut sebagai kebudayaan melalui cara serta ketentuan tertentu.
  • Kebudayaan memiliki beberapa aspek biologis di dalamnya.
  •  Kebudayaan bersifat dinamis
  • Selain bersifat dinamis, kebudayaan juga bersifat relatif serta berbeda-beda dari masyarakat yang satu ke masyarakat lainnya.
Ralph Linton
Seorang Antropolog Amerika di abad 20an, Ralph Linton menjelaskan pengertian kebudayaan secara umum dalam bukunya The Cultural Background of Personality. Menurutnya pengertian kebudayaan secara umum adalah susunan perilaku yang dipelajari dan hasil perilaku yang elemen komponennya dibagi dan ditularkan oleh anggota masyarakat tertentu. 

William H Haviland

Menurut William H. Haviland, pengertian kebudayaan secara umum adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat. Jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua masyarakat.

Kluckhohn dan Kelly 

Menurut Clyde Kluckhohn dan William Henderson Kelly dalam bukunya The concept of culture, pengertian kebudayaan secara umum adalah semua rancangan hidup yang diciptakan secara historis baik secara eksplisit, implisit, rasional, irasional, dan nonrasional, yang ada pada waktu tertentu sebagai panduan potensial dalam perilaku manusia.

Eduard Spranger 

Menurut Edward Spranger seorang filsuf dan psikolog Jerman, pengertian kebudayaan secara umum adalah segala bentuk atau ekspresi dari kehidupan batin masyarakat. Sedangkan peradaban ialah perwujudan kemajuan teknologi dan pola material kehidupannya.

Mangunsarkoro

Menurut Mangunsarkoro, pengertian kebudayaan secara umum adalah didefinisikan sebagai segala sesuatu yang merupakan hasil kerja jiwa manusia dalam arti yang seluas-luasnya.

Siswa hebat

Setelah mengetahui pengertian kebudayaan dari beberapa ahli, buatlah simpulan pengertian kebudayaan menurut pendapat kalian, mudah bukan?

Setiap tempat/ daerah memiliki budaya masing-masing, sehingga budaya di negara kita beraneka ragam.  Apakah kalian pernah merasa cemas, bingung, dan frustrasi ketika masuk ke sekolah baru,   atau lingkungan pergaulan yang baru? Kebudayaan atau kebiasaan yang bervariasi tersebut bisa menyebabkan terjadinya culture shock/ kaget budaya. Apa itu culture shock?

Culture shock/gagap budaya/gegar budaya adalah perasaan di mana seseorang merasa tertekan serta terkejut ketika berhadapan dengan lingkungan dan budaya baru.

Contoh culture shock:

    Ketika masyarakat pedalaman diberikan smartphone atau laptop akan sedikit bingung awalnya dalam mengoperasikan atau menggunakannya. Karena belum terbiasa dalam memakai barang atau elektronik digital yang canggih seperti halnya hp dan laptop tersebut. 

Gesang Anita yang kerap disapa Caca adalah seorang mahasiswi asal Lampung yang sedang menempuh pendidikannya di Jogja. Dia harus meninggalkan kampung halamannya dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Perbedaan budaya menjadi salah satu tantangan bagi para mahasiswa rantau yang berasal dari luar Jawa. Misalnya terjadinya kesalahpahaman dikarenakan bahasa yang digunakan. Kebanyakan mahasiswa luar Jawa tidak mengetahui Bahasa Jawa, sementara bahasa Jawa adalah bahasa yang sering digunakan dalam berkomunikasi. 

Pernahkah kalian mengalaminya? Coba ceritakan pengalaman kalian.

Terima kasih sudah bergabung
Semoga bermanfaat
Wassalam

Minggu, 25 Juni 2023

DIASPORA BANGSA INDONESIA

 Assalamualaikum wr.wb

Siswa hebat,

Pernahkah kalian mendengar istilah 'diaspora'?

Ada beberapa pendapat para ahli tentang pengertian diaspora.:

Sujatmiko (2014)

Menyebut diaspora sebagai istilah yang merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan Tanah Air etnis tradisional mereka. Penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia dan perkembangannya dihasilkan karena penyebaran dan budaya mereka.

Missbach (2011)

Mendefinisikan diaspora sebagai proses formasi identitas sekumpulan orang - individu maupun komunitas yang berada di luar tanah asalnya sebagai bentuk aspirasi dan rekognisi di tengah kondisi politik negara asal maupun negara penerima.

Wikipedia

Istilah diaspora digunakan untuk merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena penyebaran dan budaya mereka.

Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemudahan akses yang dapat diperoleh telah mendorong orang-orang untuk melakukan perpindahan dari satu negara ke negara lain. Hal ini dilandasi dengan berbagai macam tujuan, seperti harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, melanjutkan study, tugas, kerja, mengembangkan karier, serta berbagai alasan lainnya. Perpindahan dari satu negara ke negara lainnya inilah yang disebut dengan diaspora.

Atau dapat diartikan juga diaspora adalah perantau atau orang yang meninggalkan tanah kelahirannya untuk pergi ke negara lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik ketimbang di daerah atau di negaranya sendiri. Dewasa ini jumlah diaspora Indonesia cukup banyak, mayoritas berada di Malaysia dan negara-negara Timur Tengah di mana kebanyakan dari mereka bekerja sebagai TKW atau TKI.

Contoh Diaspora Indonesia dan Penyebabnya

Pergerakan manusia bukanlah fenomena baru dan telah dilakukan berabad-abad silam. Diaspora merupakan pergerakan manusia melintas batas teritori negara didorong oleh berbagai faktor seperti konflik daerah asal, memaksimalkan kapital hingga ilmu.

Salah satu fenomena yang paling menonjol dalam sejarah diaspora Indonesia adalah diaspora suku bangsa Bugis sejak abad ke-17. Orang-orang-orang bugis membangun koloni-koloni di Kalimantan bagian timur, di Kalimantan bagian tenggara, Pontianak, Semenanjung Melayu, khususnya di berat daya Johor dan di wilayah lainnya

Dari beberapa koloni tersebut, orang bugis mengembangkan pelayaran dan perdagangan, perikanan, pertanian, dan pembukaan lahan perkebunan. Kemampuan menyesuaikan diri merupakan modal terbesar yang memungkinkan orang Bugis dapat bertahan di mana-mana selama berabad-abad.

Jadi, kalau kalian pernah mendengar dan menyanyikan lagu "Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudra. Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa..."   Lagu tersebut sebenarnya menceritakan kondisi para leluhur bangsa di masa lampau. Kita telah mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang dipisahkan oleh lautan. Beberapa masyarakat di zaman dahulu menggunakan perahu untuk berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya.

Salah satu suku yang terkenal dan akrab dengan lautan adalah suku Bugis. Bugis sendiri merupakan suku yang terletak di wilayah selatan Pulau Sulawesi, lebih tepatnya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Suku Bugis dikenal sebagai suku yang andal dan juga piawai dalam mengarungi lautan hingga samudra di Nusantara maupun dunia. Masyarakat Bugis menaklukan lautan dengan bermodalkan sebuah perahu legendaris, yakni perahu pinisi. Perahu pinisi adalah perahu layar tradisional khas masyarakat Bugis. Ciri khas dari perahu pinisi ialah memiliki dua tiang utama serta tujuh buah layar. Tiga layar berada di bagian depan, dua di bagian tengah, dan dua di bagian belakang.

Perahu Pinisi

Diaspora juga tidak hanya terjadi di antar daerah di Indonesia tetapi juga antar negara. Diperkirakan sekitar 8 juta orang Indonesia bermukim di luar negeri dengan berbagai macam profesi seperti pengusaha, peneliti, mahasiswa, pekerja profesional, pekerja seni, TKI dan lain sebagainya dengan pendapatan perkapita lima kali lipat per kapita di Indonesia. Dengan jumlah sekitar 8 juta orang, diaspora Indonesia berada di kisaran 3% dari total jumlah penduduk di Indonesia.

Demikian sekilas tentang diaspora,semoga bermanfaat


Senin, 01 Mei 2023

PROSES SOSIALISASI

 Assalamualaikum 

Salam dan bahagia

Siswa hebat, 

Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu bersosialisasi dengan menusia lainnya. Proses sosialisasi yang dilakukan oleh manusia tejadi secara bertahap. Ada beberapa pendapat tentang proses sosialisasi. 

Proses Sosialisasi Menurut Jean Piaget

Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, proses sosialisasi menekankan pada kemampuan anak untuk memahami dunia.

Proses sosialisasi menurut Jean Piaget terjadi dalam empat tahap, yaitu:

  1. Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
  2. Tahap Pra operasional (usia 2- 7 tahun)
  3. Tahap operasional Konkret (usia 7- 11 tahun)
  4. Tahap Operasional formal (usia 11- 15 tahun)

Proses Sosialisasi menurut George Hebert Mead

Proses sosialisasi menurut George Hebert Mead juga meliputi empat tahap, yaitu:


  1. Tahap Persiapan (Preparatory stage). Tahap persiapan dimulai saat anak dilahirkan. Pada tahap ini, manusia dalam persiapan untuk memperoleh pemahaman tentang dirinya sendiri. Preparatory stage adalah proses meniru pada usia awal yang dimulai sejak lahir dengan cara belajar menirukan semua yang diajarkan orang tuanya, mulai belajar berbicara, belajar makan, belajar berjalan, bertindak, dan berperilaku.

  2. Tahap Meniru (Play Stage). Play stage adalah tahap seorang anak yang sudah pandai menirukan peran-peran tertentu, walaupun masih terbatas dan belum sempurna. Dalam tahapan ini, anak sudah mulai besar dan mulai mengenal lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan tetangganya. Bersama teman sepermainannya, anak sudah mengenal teknik bermain peran. Misalnya, main perang-perangan, dokter-dokteran, ataupun polisi-polisian.

  3. Tahap Siap Bertindak (Game Stage). Tahap siap bertindak atau game stage merupakan kelanjutan teknik bermain peran pada masa anak-anak. Anak pada masa ini berperan secara langsung dalam permainan sendiri dengan penuh kesadaran. Pada tahap ini anak akan memiliki partner interaksinya yang makin lama makin banyak. Anak sudah berkembang menjadi remaja yang tidak hanya bisa meniru peran seseorang yang diidolakannya, seolah-olah sudah mengidentikkan (menyamakan) dirinya dengan tokoh yang diidolakannya.

  4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized others). Tahap proses sosialisasi terakhir adalah tahap penerimaan norma kolektif atau generalized others. Pada masa ini manusia mendapatkan dirinya dengan sebutan manusia dewasa. Proses sosialisasi pada masa dewasa sudah mencapai titik yang paling optimal bagi seorang individu. Proses belajar tidak hanya melalui pola meniru, namun lebih menekankan arted kepada pola menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih luas. Pada tahap ini, individu sudah memperoleh status dan peranan dalam menyesuaikan dirinya dengan pola sosial budaya masyarakat tempatnya tinggal.
Proses Sosialisasi Menurut Erik Erikson (Teori Psikososial)



Erik Erikson merupakan seorang psikolog yang berpendapat bahwa kepribadian seseorang itu tumbuh dalam beberapa tahap. Setiap tahap menggambarkan dampak dari pengalaman sosial. Tahap-tahap tersebut adalah:
  1. Tahap 1 (usia 0 - 1,5 tahun). Pada tahap ini, anak menumbuhkan harapan dan mengembangkan rasa percaya saat orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) menyediakan kasih sayang, kelembutan, dan kepedulian. Jika tidak maka anak akan mengembangkan ketidakpercayaan.
  2. Tahap 2 (usia 1,5 - 3 tahun). Tahap ini adalah ahap usia dini dimana anak menumbuhkan tekad dan kehendak mereka hanya jika orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) menyediakan kesempatan untuk mengembangkan kontrol diri serta kemandirian. Jika tidak maka yang tumbuh adalah keraguan dan rasa rendah diri.
  3. Tahap 3 (usia 3 - 5 tahun). Tahap ini adalah masa awal anak bersekolah. Mereka mulai mengeksplorasi maksud dan tujuan dalam kehidupan/ lingkungan mereka. Orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) perlu membuka banyak kesempatan pada anak untuk mengambil inisiatif. Jika tidak, maka yang tumbuh adalah rasa bersalah.
  4. Tahap 4 (usia 5 - 12 tahun). Pada tahap ini anak menumbuhkan rasa kompeten atau kebanggaan atas pencapaian dan kemampuan mereka. Orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) harus menyediakan pengalaman bagi anak untuk menumbuhkembangkan produktivitas dalam belajar. Jika tidak, maka dalam diri anak akan tumbuh rasa inferior, meras kecil dan tidak berarti.
  5. Tahap 5 (usia 12 - 18 tahun). Tahap ini adalah masa remaja. Karakteristik anak pada tahap ini adalah labil dan galau. Karena mereka sedang mencari dan mencoba menebalkan identitas diri. Pengalaman pada masa ini akan berpengaruh pada masa berikutnya. Mereka sedang mencari pegangan untuk menambatkan loyalitas mereka. Orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) perlu menuntun proses penguatan identitas agar mereka tidak mengalami kebingungan peran.
  6. Tahap 6 (usia 18 - 40 tahun).  Pada tahap ini seseorang mulai mengeksplorasi hubungan relasi yang sifatnya pribadi. Tahap ini adalah masa dewasa muda dimana mereka mulai mencari dan mendalami perasaan cinta. Mulai membangun rasa dan kedekatan intim dengan orang lain dan keluarga. Jika kesempatan untuk menumbuhkan itu semua tidak tersedia, maka akan berujung pada lemahnya dukungan sosial bagi dirinya, merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya
Proses Sosialisasi Menurut Ki Hadjar Dewantara



Setiap manusia memiliki cara pandangnya sendiri  terhadap dunia aesuai dengan usia dan tahap tumbuh kembangnya. Ki hadjar Dewantara meyakini bahwa proses belajar harus selaras dengan kodrat anak. Pada tiap periode usia anak memiliki kekhususan yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar. Ki Hadjar Dewantara membagi periode usia anak menjadi tiga tingkatan jiwa tiap 8 tahun (windu), yaitu:

  1. Wiraga (periode usia 0-8 tahun). Pada periode ini jasmani (raga) dan indera anak tumbuh sangat pesat. Mereka harus banyak bergerak (melatih otot kasar/ besar), melatih otot halus, mengeksplorasi indera (pendengaran, perasa, pengecap, penciuman, peraba, termasuk imajinasi), dan mengenali simbol-simbol. Ki Hadjar Dewantara juga menyebautnya sebagai Taman Indria. Pada periode ini, guru terus berupaya fokus pada pemberian akses dan penyediaan pengalaman belajar anak agar makin merdeka dalam mengesplorasi dunianya (diri, sesama, dan lingkungan dekatnya).
  2. Wiraga- Wirama (periode usia 9-16 tahun). Pada periode ini anak mulai berkembang pikirannya. Maka, selain melanjutkan pendidikan untuk mengakomodasi kebutuhan perkembangan jasmani dan indera mereka yang belum usai, pendidik juga mulai fokus dalam menuntun proses berpikir anak agar mereka semakin selaras (seirama) dengan sesamanya dan lingkungannya. Pendidik pada periode ini menuntun anak untuk melakukan, membiasakan, menginsyafi, hingga akhirnya menyadari mengapa mereka (misalny) melakukan kebiasaan baik yang mereka lakukan di sekolah, bukan sekedar menuruti/ mengikuti suatu aturan / kebiasaan saja.
  3. Wirama (periode usia 17-24 tahun). Pada usia ini guru menuntun dan menantang anak dalam hal pengelolaan diri dan pengenalan potensi dirinya. Anak mulai menata bagaimana agar masa depannya senantiasa seirama dengan sesama dan semesta. Anak dipaparkan pada keputusan-keputusan mengenai bagaimana menebalkan jati dirinya ditengah masyarakat dan lingkungan.  Mereka sadar bagaimana membawa diri sebagai manusia yang merdeka.
Demikian beberapa pendapat tentang proses sosialisasi dari beberapa ahli. Intinya, proses sosialisasi akan terjadi secara terus menerus sejak manusia dilahirkan sampai selamanya.  Proses sosialisasi dapat dikatakan sebagai pendidikan sepanjang hayat/ belajar sepanjang hayat.

Semoga bermanfaat
Salam dan bahagia

Referensi:


Dharma, Aditya. 2022. Modul 1.2 Guru Penggerak. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan teknologi.

https://www.kompas.com/skola/read/2022/08/30/103000269/proses-sosialisasi-manusia-beserta-tahapannya

Selasa, 25 April 2023

CIRI DAN FUNGSI KELUARGA

 

Keluarga

Apa yang dimaksud dengan keluarga (family)? Secara umum, pengertian keluarga adalah kelompok sosial yang paling kecil di dalam masyarakat yang umumnya terdiri dari satu atau dua orang tua berserta anak-anak mereka, dimana orang-orang tersebut tinggal dalam satu atap bersama-sama dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Pendapat lain menyebutkan arti keluarga adalah sekelompok manusia yang hidup bersama-sama sebagai unit masyarakat terkecil dan umumnya memiliki hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya, serta tinggal bersama-sama dalam satu rumah yang dipimpin oleh kepala keluarga.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa sebuah keluarga terdiri dari kepala keluarga dan anggota keluarganya, yaitu; Ayah, Ibu, dan Anak, yang tinggal bersama dan saling membutuhkan.

Ciri-Ciri Keluarga Secara Umum 

Sekumpulan manusia dikatakan sebagai keluarga jika memiliki ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri keluarga adalah sebagai berikut: 

  • Keluarga terdiri dari beberapa orang yang mempunyai ikatan, baik itu ikatan darah, perkawinan, ataupun adopsi. 
  • Setiap orang dalam keluarga biasanya tinggal bersama-sama dalam satu rumah tangga. Jika anggota keluarga terpisah, mereka tetap akan menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumahnya. 
  • Setiap orang dalam keluarga memiliki peran sosial, mulai dari suami dan istri, ayah dan ibu, anak dan saudara, dimana mereka saling berinteraksi dan saling berkomunikasi satu sama lain.  
  • Keluarga memiliki suatu kebudayaan bersama yang biasanya berasal dari kebudayaan umum yang lebih luas dan berusaha untuk mempertahankan kebudayaan tersebut.
Fungsi Keluarga 

Dalam kehidupan sosial manusia, terdapat beberapa fungsi keluarga di dalam tatanan masyarakat. Berikut ini adalah beberapa fungsi dasar keluarga: 
  1. Fungsi Biologis; keluarga berfungsi untuk meneruskan garis keturunan, memelihara dan membesarkan anak, merawat dan melindungi kesehatan anggota kelarga, serta memberikan kesempatan anggota keluarga untuk berekreasi. 
  2. Fungsi Sosiologi; keluarga berfungsi sebagai tempat bersosialisasi, mempertahankan nilainilai budaya, membentuk norma-norma dan perilaku anak serta kehidupan dalam berkeluarga. 
  3.  Fungsi Psikologis; keluarga dapat memberikan perlindungan secara psikologis, sebagai identitas yang memberikan rasa aman dan kasih sayang, mendewasakan kepribadian anggotanya, serta melakukan hubungan dengan keluarga lainnya atau masyarakat luas. 
  4. Fungsi Pendidikan; proses pendidikan anak dimulai dari dalam keluarga, mulai dari pembentukan karakter dan perilaku, pengetahuan umum, keterampilan, dan pengetahuan lainnya guna persiapan untuk kehidupan saat dewasa. 
  5. Fungsi Ekonomi; keluarga berfungsi untuk memenuhi kehidupan ekonomi para anggotanya, misalnya pengaturan keuangan, mulai dari mencari sumber untuk memenuhi fungsi lainnya, hingga membagi sumber tersebut untuk pengeluaran atau tabungan. 
  6. Fungsi Agama; setiap orang mengenal suatu keyakinan dari keluarga sehingga mereka dapat mengatur kehidupan masa kini dan kehidupan lain setelah dunia. 
Keluarga/ orangtua berfungsi untuk memastikan bahwa anaknya sehat dan aman, memberikan sarana dan prasana untuk mengembangkan kemampuan sebagai bekal di kehidupan sosial, serta sebagai media dalam menanamkan nilai sosial dan budaya sedini mungkin. Orangtua memberikan kasih sayang, penerimaan, penghargaan, pengakuan, dan arahan kepada anaknya.
Hubungan antara orangtua dan anak sangat penting untuk membangun kepercayaan terhadap orang lain dan diri sendiri. Selain itu juga dapat membantu perkembangan sosial, emosional, dan kognitif pada anak.

Selasa, 14 Maret 2023

PENTINGNYA GAYA HIDUP BERKELANJUTAN

 Assalamualaikum...

Salam dan Bahagia

Siswa hebat, ayo selalu berbahagia dalam menjalankan setiap aktivitas. Bersama belajar dan melaksanakan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan penuh semangat. Masih di tema ketiga yaitu tentang Gayan Hidup Berkelanjutan. Kali ini kita akan bahas tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan.



Gaya hidup berkelanjutan dapat diartikan dengan gaya hidup yang ramah lingkungan, dimana kita berupaya membuat bumi menjadi lebih baik, serta mencegah terjadinya perubahan iklim yang ekstrem. Saat ini banyak orang mulai menerapkan gaya hidup yang memprioritaskan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui.

Mengubah gaya hidup bukanlah sesuatu yang mudah. Maka dari itu perubahan gaya hidup harus kita mulai dari hal kecil yang akrab dengan keseharian kita.Transaksi jual-beli contohnya. Tindakan jual-beli tidak dapat terlepas dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu kita harus mulai memperhatikannya. Misal seperti berasal dari produsen manakah produk yang kita beli? Apakah produsennya memiliki prinsip yang ramah lingkungan? Apakah kemasan produk tersebut dapat didaur ulang? Dan lain-lain.

Gaya hidup berkelanjutan tercermin pada pemilihan produk, cara berperilaku, serta aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kita, tanpa mengurangi atau mengubah akses sumber daya bagi generasi yang akan datang. Gaya hidup berkelanjutan dapat kita terapkan melalui perubahan kecil. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi sampah plastik sekali pakai dengan memilih produk dengan kemasan yang dapat didaur ulang, membawa tempat makan untuk membeli jajanan, memanfaatkan hasil samping dari suatu sumber daya yang biasanya dibuang, dan lain-lain. Langkah kecil untuk memulai gaya hidup berkelanjutan akan berdampak besar untuk menciptakan bumi yang lestari.


Mengapa gaya hidup berkelanjutan sangat penting?

Gaya hidup berkelanjutan penting diajarkan kepada anak-anak sejak dini di sekolah maupun di rumah. Sebab segala aktivitas yang dilakukan saat ini akan berdampak terhadap lingkungan dan orang lain di masa depan. Sehingga mereka akan memiliki kesadaran dan merasa bertanggung jawab untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Selain itu, gaya hidup berkelanjutan juga dapat meningkatkan kualitas hidup murid, karena menerapkan kebiasaan-kebiasaan sehat dan berkelanjutan seperti mengonsumsi makanan organik, melakukan penghijauan, dan sebagainya.

Caranya yaitu dengan ikut serta menjaga lingkungan. Misalnya tidak membuang sampah sembarangan, tidak menggunakan banyak kantong plastik hingga tidak sering menggunakan kendaraan. Sebab asap kendaraan bagian dari pencemaran lingkungan. Melakukan daur ulang sampah, memanfaatkan hasil samping dari suatu sumber daya, yang biasanya dibuang menjadi sampah bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi sesuatu yang berguna. dan lain-lain

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran para siswa terkait lingkungan. Dimana lingkungan perlu dijaga sebaik mungkin. Perlu dijaga dari berbagai tindakan yang dapat merusak bumi. Yang jelas tindakan negatif dari manusia itu sendiri. Jadikanlah   bumi ini dapat terus indah dan dapat dipandang dan dinikmati para generasi mendatang

Semoga bermanfaat

Salam Literasi

Wassalam

Minggu, 12 Maret 2023

PENERAPAN GAYA HIDUP BERKELANJUTAN

 Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar siswa hebat?

Berjumpa lagi dengan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kali ini kita sudah memasuki tema ketiga, tema terakhir pada kelas 7. Pada waktu sebelumnya kita telah menyelesaikan tema 1 dan 2, yaitu tentang Suara Demokrasi dan Kearifan Lokal. Pada tema ketiga kita akan belajar tentang Gaya Hidup Berkelanjutan. Sudah siap dan semangat belajar?

Siswa hebat, Profil Pelajar Pancasila merupakan gambaran pelajar Indonesia yang merupakan pelajar sepanjang hayat yanag kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai- nilai Pancasila. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan pembelajarn lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan dilingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam profil pelajar Pancasila.

Berdasarkan Permendikbudristek No. 56/M/2022, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.

Tema dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Antara lain; 1) Gaya hidup bekelanjutan, 2) Kearifan local, 3) Bhineka Tunggal Ika, 4) Bangunlah jiwa dan raganya, 5) Suara demokrasi, 6) Rekayasa dan teknologi, 7) Kewirausahaan. Pada waktu sebelumnya kita telah mengambil dua tema yaitu Suara Demokrasi dan Kearifan lokal.

Dari tema-tema tersebut, yang kita pilih untuk tema ke tiga kita adalah gaya hidup berkelanjutan. Apa itu gaya hidup berkelanjutan?

Gaya hidup berkelanjutan adalah gaya hidup yang mengutamakan penggunaan energi terbarukan. Gaya hidup berkelanjutan berusaha memenuhi kebutuhannya tanpa mengubah atau mengurangi sumber energi bagi generasi berikutnya. Gaya hidup berkelanjutan ini tercermin dalam bagaimana memilih produk, perilaku, dan aktvitas yang lebih meminimalisasi sumber energi tak terbarukan dan menghasilkan energi kotor yang merusak lingkungan. Ini sebabnya gaya hidup berkelanjutan sangat ramah lingkungan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh siswa hebat untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan? Berikut adalah contoh hal-hal yang bisa dilakukan oleh siswa hebat sebagai penerapan gaya hidup berkelanjutan.

1. Membuang sampah pada tempatnya

Membuang sampah pada tempatnya patut dan harus dilakukan agar kelestarian lingkungan terjaga. Seperti yang telah diketahui membuang sampah sembarangan akan berdampak besar bagi pencemaran lingkungan.

2. Menanam pohon / hutan mangrove (bakau)

Menanam mangrove
Hutan mangrove adalah jenis hutan yang didominasi oleh tanaman-tanaman mangrove dan berada di kawasan pesisir atau bibir pantai yang menjadi tempat pertemuan air tawar dan air laut.
Hutan mangrove atau bakau yang ditanam di pinggir pantai mempunyai manfaat yang besar bagi lingkungan, antara lain; menyediakan nutrisi bagi makhluk hidup, menjernikan air dan menjaga salinitas garam, menyediakan berbagai kebutuhan obat tradisional, mencegah abrasi dan erosi tanah. Selain itu hutan mangrove juga bisa menjadi destinasi wisata yang menarik, yang disebut Ekowisata Siapkah kalian untuk menanam pohon mangrove atau tepi pantai?

3. Membawa bekal makan dari rumah

Dengan membawa bekal makanan sendiri, tidak ada sampah yang dihasilkan sebab tidak perlu membeli makanan kemasan. Selain itu, minta siswa untuk selalu menghabiskan makanan yang dibawa. Ini agar jumlah sampah makanan yang mengasilkan banyak zat karbon tidak menumpuk.

4. Memilah sampah

Untuk kegiatan memilah sampah pihak sekolah dapat menyediakan beragam tempat sampah sesuai jenis sampahnya. Jenis sampah itu mulai dari sampah organik hingga sampah anorganik. Memilah sampah akan memudahkan proses pengolahan sampah selanjutnya. Jadi, lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

5. Diet plastik

Sampah plastik adalah penyumbang sampah terbesar. Ajak siswa melakukan diet plastik sebagai bentuk gaya hidup ramah lingkungan. Caranya mulai dari membawa botol minum hingga tas belanja sendiri.

6. Mengelolah sampah


contoh ecobrik

Gaya hidup berkelanjutan juga bisa dilakukan dengan cara mengolah sampah sendiri. Misalnya sampah orgaik dikelola menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman. Atau mengelola plastic kemasan menjadi ecobrik, yang bisa digunakan sebagai bahan bagu perabotan ramah lingkungan.

7. Menggunakan transportasi ramah lingkungan

Siswa hebat dapat menggunakan trasnportasi ramah lingkungan. Misalnya, bagi siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah, ajak untuk berjalan kaki atau menggunakan sepeda saat pergi ke sekolah. Bagi yang rumahnya jauh, bisa menggunakan transportasi umum secara bersama-sama. Hal ini agar menghemat penggunaan bahan bakar fosil.

8. Menanam pohon

Siswa hebat dapat menanam pohon di lingkungan sekolah. Satu siswa satu pohon. Tak hanya menanam pohon saja, tapi siswa juga punya kewajiban untuk merawat pohon yang sudah ditanamnya. Semakin banyak pohon yang ditanam di sekolah, tentu akan semakin membuat lingkungan sekolah menjadi lestari.

9. Hemat listrik

Hemat listrik dapat dilakukan saat proses pembelajaran di kelas. Caranya dengan memanfaatkan cahaya matahari dan embusan angin. Hal tersebut dapat mengurangi pemakaian lampu dan AC di sekolah.

10. Menggunakan sumber belajar digital

Di era digitalisasi seperti ini, sumber belajar semakin mudah diakses. Dorong siswa untuk menggunakan sumber belajar digital. Sebagai contoh, buku elektronik untuk menghemat penggunaan kertas. Pembelajaran yang dilakukan pun jadi lebih ramah lingkungan karena mengurangi jumlah pohon yang ditebang untuk bahan baku kertas. Siswa dapat menjaga hutan tetap ada di masa depan.

11. Menggunakan barang sampai habis

Siswa hebat harus paham untuk selalu menggunakan barang-barangnya sampai habis. Tidak beli barang baru, kecuali dibutuhkan. Ini tak hanya menerapkan gaya hidup berkelanjutan saja, tetapi juga mendorong siswa untuk bijak berkonsumsi. 

12. Memanfaatkan bagian barang yang biasanya terbuang (hasil samping)

Siswa hebat dapat memanfaatkan bagian lain dari barang yang digunakan. Bagian barang yang biasanya dibuang tetapi bisa dimanfaatkan dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

13. Melakukan kampanye gaya hidup berkelanjutan

Siswa hebat dapat melakukan kampanye hidup berkelanjutan. Sebarkan semangat hidup berkelanjutan di lingkungan sekolah dengan berbagai media yang ada, mulai dari mading (majalah dinding) sekolah, majalah sekolah, hingga media sosial sekolah. Kampanye  akan membuat siswa semakin bersemangat untuk melakukan gaya hidup berkelanjutan. Kegiatan itu sekaligus bermanfaat untuk menyebarkan informasi pada yang lain. Dengan demikian, makin banyak orang yang melakukan gaya hidup berkelanjutan.

Demikian beberapa hal tentang bagaimana cara menerapkan gaya hidup berkelanjutan pada siswa. Semoga bermanfaat dan menjadi inpirasi  dalam mendorong siswa-siswa untuk memiliki gaya hidup berkelanjutan.

Salam dan bahagia
Wassalamualaikum