Senin, 01 Mei 2023

PROSES SOSIALISASI

 Assalamualaikum 

Salam dan bahagia

Siswa hebat, 

Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu bersosialisasi dengan menusia lainnya. Proses sosialisasi yang dilakukan oleh manusia tejadi secara bertahap. Ada beberapa pendapat tentang proses sosialisasi. 

Proses Sosialisasi Menurut Jean Piaget

Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, proses sosialisasi menekankan pada kemampuan anak untuk memahami dunia.

Proses sosialisasi menurut Jean Piaget terjadi dalam empat tahap, yaitu:

  1. Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
  2. Tahap Pra operasional (usia 2- 7 tahun)
  3. Tahap operasional Konkret (usia 7- 11 tahun)
  4. Tahap Operasional formal (usia 11- 15 tahun)

Proses Sosialisasi menurut George Hebert Mead

Proses sosialisasi menurut George Hebert Mead juga meliputi empat tahap, yaitu:


  1. Tahap Persiapan (Preparatory stage). Tahap persiapan dimulai saat anak dilahirkan. Pada tahap ini, manusia dalam persiapan untuk memperoleh pemahaman tentang dirinya sendiri. Preparatory stage adalah proses meniru pada usia awal yang dimulai sejak lahir dengan cara belajar menirukan semua yang diajarkan orang tuanya, mulai belajar berbicara, belajar makan, belajar berjalan, bertindak, dan berperilaku.

  2. Tahap Meniru (Play Stage). Play stage adalah tahap seorang anak yang sudah pandai menirukan peran-peran tertentu, walaupun masih terbatas dan belum sempurna. Dalam tahapan ini, anak sudah mulai besar dan mulai mengenal lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan tetangganya. Bersama teman sepermainannya, anak sudah mengenal teknik bermain peran. Misalnya, main perang-perangan, dokter-dokteran, ataupun polisi-polisian.

  3. Tahap Siap Bertindak (Game Stage). Tahap siap bertindak atau game stage merupakan kelanjutan teknik bermain peran pada masa anak-anak. Anak pada masa ini berperan secara langsung dalam permainan sendiri dengan penuh kesadaran. Pada tahap ini anak akan memiliki partner interaksinya yang makin lama makin banyak. Anak sudah berkembang menjadi remaja yang tidak hanya bisa meniru peran seseorang yang diidolakannya, seolah-olah sudah mengidentikkan (menyamakan) dirinya dengan tokoh yang diidolakannya.

  4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized others)Tahap proses sosialisasi terakhir adalah tahap penerimaan norma kolektif atau generalized others. Pada masa ini manusia mendapatkan dirinya dengan sebutan manusia dewasa. Proses sosialisasi pada masa dewasa sudah mencapai titik yang paling optimal bagi seorang individu. Proses belajar tidak hanya melalui pola meniru, namun lebih menekankan arted kepada pola menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih luas. Pada tahap ini, individu sudah memperoleh status dan peranan dalam menyesuaikan dirinya dengan pola sosial budaya masyarakat tempatnya tinggal.
Proses Sosialisasi Menurut Erik Erikson (Teori Psikososial)



Erik Erikson merupakan seorang psikolog yang berpendapat bahwa kepribadian seseorang itu tumbuh dalam beberapa tahap. Setiap tahap menggambarkan dampak dari pengalaman sosial. Tahap-tahap tersebut adalah:
  1. Tahap 1 (usia 0 - 1,5 tahun). Pada tahap ini, anak menumbuhkan harapan dan mengembangkan rasa percaya saat orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) menyediakan kasih sayang, kelembutan, dan kepedulian. Jika tidak maka anak akan mengembangkan ketidakpercayaan.
  2. Tahap 2 (usia 1,5 - 3 tahun). Tahap ini adalah ahap usia dini dimana anak menumbuhkan tekad dan kehendak mereka hanya jika orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) menyediakan kesempatan untuk mengembangkan kontrol diri serta kemandirian. Jika tidak maka yang tumbuh adalah keraguan dan rasa rendah diri.
  3. Tahap 3 (usia 3 - 5 tahun). Tahap ini adalah masa awal anak bersekolah. Mereka mulai mengeksplorasi maksud dan tujuan dalam kehidupan/ lingkungan mereka. Orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) perlu membuka banyak kesempatan pada anak untuk mengambil inisiatif. Jika tidak, maka yang tumbuh adalah rasa bersalah.
  4. Tahap 4 (usia 5 - 12 tahun). Pada tahap ini anak menumbuhkan rasa kompeten atau kebanggaan atas pencapaian dan kemampuan mereka. Orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) harus menyediakan pengalaman bagi anak untuk menumbuhkembangkan produktivitas dalam belajar. Jika tidak, maka dalam diri anak akan tumbuh rasa inferior, meras kecil dan tidak berarti.
  5. Tahap 5 (usia 12 - 18 tahun). Tahap ini adalah masa remaja. Karakteristik anak pada tahap ini adalah labil dan galau. Karena mereka sedang mencari dan mencoba menebalkan identitas diri. Pengalaman pada masa ini akan berpengaruh pada masa berikutnya. Mereka sedang mencari pegangan untuk menambatkan loyalitas mereka. Orang tua (pengasuh/ lingkungan sosial) perlu menuntun proses penguatan identitas agar mereka tidak mengalami kebingungan peran.
  6. Tahap 6 (usia 18 - 40 tahun).  Pada tahap ini seseorang mulai mengeksplorasi hubungan relasi yang sifatnya pribadi. Tahap ini adalah masa dewasa muda dimana mereka mulai mencari dan mendalami perasaan cinta. Mulai membangun rasa dan kedekatan intim dengan orang lain dan keluarga. Jika kesempatan untuk menumbuhkan itu semua tidak tersedia, maka akan berujung pada lemahnya dukungan sosial bagi dirinya, merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya
Proses Sosialisasi Menurut Ki Hadjar Dewantara



Setiap manusia memiliki cara pandangnya sendiri  terhadap dunia aesuai dengan usia dan tahap tumbuh kembangnya. Ki hadjar Dewantara meyakini bahwa proses belajar harus selaras dengan kodrat anak. Pada tiap periode usia anak memiliki kekhususan yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar. Ki Hadjar Dewantara membagi periode usia anak menjadi tiga tingkatan jiwa tiap 8 tahun (windu), yaitu:

  1. Wiraga (periode usia 0-8 tahun). Pada periode ini jasmani (raga) dan indera anak tumbuh sangat pesat. Mereka harus banyak bergerak (melatih otot kasar/ besar), melatih otot halus, mengeksplorasi indera (pendengaran, perasa, pengecap, penciuman, peraba, termasuk imajinasi), dan mengenali simbol-simbol. Ki Hadjar Dewantara juga menyebautnya sebagai Taman Indria. Pada periode ini, guru terus berupaya fokus pada pemberian akses dan penyediaan pengalaman belajar anak agar makin merdeka dalam mengesplorasi dunianya (diri, sesama, dan lingkungan dekatnya).
  2. Wiraga- Wirama (periode usia 9-16 tahun). Pada periode ini anak mulai berkembang pikirannya. Maka, selain melanjutkan pendidikan untuk mengakomodasi kebutuhan perkembangan jasmani dan indera mereka yang belum usai, pendidik juga mulai fokus dalam menuntun proses berpikir anak agar mereka semakin selaras (seirama) dengan sesamanya dan lingkungannya. Pendidik pada periode ini menuntun anak untuk melakukan, membiasakan, menginsyafi, hingga akhirnya menyadari mengapa mereka (misalny) melakukan kebiasaan baik yang mereka lakukan di sekolah, bukan sekedar menuruti/ mengikuti suatu aturan / kebiasaan saja.
  3. Wirama (periode usia 17-24 tahun). Pada usia ini guru menuntun dan menantang anak dalam hal pengelolaan diri dan pengenalan potensi dirinya. Anak mulai menata bagaimana agar masa depannya senantiasa seirama dengan sesama dan semesta. Anak dipaparkan pada keputusan-keputusan mengenai bagaimana menebalkan jati dirinya ditengah masyarakat dan lingkungan.  Mereka sadar bagaimana membawa diri sebagai manusia yang merdeka.
Demikian beberapa pendapat tentang proses sosialisasi dari beberapa ahli. Intinya, proses sosialisasi akan terjadi secara terus menerus sejak manusia dilahirkan sampai selamanya.  Proses sosialisasi dapat dikatakan sebagai pendidikan sepanjang hayat/ belajar sepanjang hayat.

Semoga bermanfaat
Salam dan bahagia

Referensi:


Dharma, Aditya. 2022. Modul 1.2 Guru Penggerak. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan teknologi.

https://www.kompas.com/skola/read/2022/08/30/103000269/proses-sosialisasi-manusia-beserta-tahapannya

Selasa, 25 April 2023

CIRI DAN FUNGSI KELUARGA

 

Keluarga

Apa yang dimaksud dengan keluarga (family)? Secara umum, pengertian keluarga adalah kelompok sosial yang paling kecil di dalam masyarakat yang umumnya terdiri dari satu atau dua orang tua berserta anak-anak mereka, dimana orang-orang tersebut tinggal dalam satu atap bersama-sama dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Pendapat lain menyebutkan arti keluarga adalah sekelompok manusia yang hidup bersama-sama sebagai unit masyarakat terkecil dan umumnya memiliki hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya, serta tinggal bersama-sama dalam satu rumah yang dipimpin oleh kepala keluarga.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa sebuah keluarga terdiri dari kepala keluarga dan anggota keluarganya, yaitu; Ayah, Ibu, dan Anak, yang tinggal bersama dan saling membutuhkan.

Ciri-Ciri Keluarga Secara Umum 

Sekumpulan manusia dikatakan sebagai keluarga jika memiliki ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri keluarga adalah sebagai berikut: 

  • Keluarga terdiri dari beberapa orang yang mempunyai ikatan, baik itu ikatan darah, perkawinan, ataupun adopsi. 
  • Setiap orang dalam keluarga biasanya tinggal bersama-sama dalam satu rumah tangga. Jika anggota keluarga terpisah, mereka tetap akan menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumahnya. 
  • Setiap orang dalam keluarga memiliki peran sosial, mulai dari suami dan istri, ayah dan ibu, anak dan saudara, dimana mereka saling berinteraksi dan saling berkomunikasi satu sama lain.  
  • Keluarga memiliki suatu kebudayaan bersama yang biasanya berasal dari kebudayaan umum yang lebih luas dan berusaha untuk mempertahankan kebudayaan tersebut.
Fungsi Keluarga 

Dalam kehidupan sosial manusia, terdapat beberapa fungsi keluarga di dalam tatanan masyarakat. Berikut ini adalah beberapa fungsi dasar keluarga: 
  1. Fungsi Biologis; keluarga berfungsi untuk meneruskan garis keturunan, memelihara dan membesarkan anak, merawat dan melindungi kesehatan anggota kelarga, serta memberikan kesempatan anggota keluarga untuk berekreasi. 
  2. Fungsi Sosiologi; keluarga berfungsi sebagai tempat bersosialisasi, mempertahankan nilainilai budaya, membentuk norma-norma dan perilaku anak serta kehidupan dalam berkeluarga. 
  3.  Fungsi Psikologis; keluarga dapat memberikan perlindungan secara psikologis, sebagai identitas yang memberikan rasa aman dan kasih sayang, mendewasakan kepribadian anggotanya, serta melakukan hubungan dengan keluarga lainnya atau masyarakat luas. 
  4. Fungsi Pendidikan; proses pendidikan anak dimulai dari dalam keluarga, mulai dari pembentukan karakter dan perilaku, pengetahuan umum, keterampilan, dan pengetahuan lainnya guna persiapan untuk kehidupan saat dewasa. 
  5. Fungsi Ekonomi; keluarga berfungsi untuk memenuhi kehidupan ekonomi para anggotanya, misalnya pengaturan keuangan, mulai dari mencari sumber untuk memenuhi fungsi lainnya, hingga membagi sumber tersebut untuk pengeluaran atau tabungan. 
  6. Fungsi Agama; setiap orang mengenal suatu keyakinan dari keluarga sehingga mereka dapat mengatur kehidupan masa kini dan kehidupan lain setelah dunia. 
Keluarga/ orangtua berfungsi untuk memastikan bahwa anaknya sehat dan aman, memberikan sarana dan prasana untuk mengembangkan kemampuan sebagai bekal di kehidupan sosial, serta sebagai media dalam menanamkan nilai sosial dan budaya sedini mungkin. Orangtua memberikan kasih sayang, penerimaan, penghargaan, pengakuan, dan arahan kepada anaknya.
Hubungan antara orangtua dan anak sangat penting untuk membangun kepercayaan terhadap orang lain dan diri sendiri. Selain itu juga dapat membantu perkembangan sosial, emosional, dan kognitif pada anak.

Selasa, 14 Maret 2023

PENTINGNYA GAYA HIDUP BERKELANJUTAN

 Assalamualaikum...

Salam dan Bahagia

Siswa hebat, ayo selalu berbahagia dalam menjalankan setiap aktivitas. Bersama belajar dan melaksanakan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan penuh semangat. Masih di tema ketiga yaitu tentang Gayan Hidup Berkelanjutan. Kali ini kita akan bahas tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan.



Gaya hidup berkelanjutan dapat diartikan dengan gaya hidup yang ramah lingkungan, dimana kita berupaya membuat bumi menjadi lebih baik, serta mencegah terjadinya perubahan iklim yang ekstrem. Saat ini banyak orang mulai menerapkan gaya hidup yang memprioritaskan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui.

Mengubah gaya hidup bukanlah sesuatu yang mudah. Maka dari itu perubahan gaya hidup harus kita mulai dari hal kecil yang akrab dengan keseharian kita.Transaksi jual-beli contohnya. Tindakan jual-beli tidak dapat terlepas dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu kita harus mulai memperhatikannya. Misal seperti berasal dari produsen manakah produk yang kita beli? Apakah produsennya memiliki prinsip yang ramah lingkungan? Apakah kemasan produk tersebut dapat didaur ulang? Dan lain-lain.

Gaya hidup berkelanjutan tercermin pada pemilihan produk, cara berperilaku, serta aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kita, tanpa mengurangi atau mengubah akses sumber daya bagi generasi yang akan datang. Gaya hidup berkelanjutan dapat kita terapkan melalui perubahan kecil. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi sampah plastik sekali pakai dengan memilih produk dengan kemasan yang dapat didaur ulang, membawa tempat makan untuk membeli jajanan, memanfaatkan hasil samping dari suatu sumber daya yang biasanya dibuang, dan lain-lain. Langkah kecil untuk memulai gaya hidup berkelanjutan akan berdampak besar untuk menciptakan bumi yang lestari.


Mengapa gaya hidup berkelanjutan sangat penting?

Gaya hidup berkelanjutan penting diajarkan kepada anak-anak sejak dini di sekolah maupun di rumah. Sebab segala aktivitas yang dilakukan saat ini akan berdampak terhadap lingkungan dan orang lain di masa depan. Sehingga mereka akan memiliki kesadaran dan merasa bertanggung jawab untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Selain itu, gaya hidup berkelanjutan juga dapat meningkatkan kualitas hidup murid, karena menerapkan kebiasaan-kebiasaan sehat dan berkelanjutan seperti mengonsumsi makanan organik, melakukan penghijauan, dan sebagainya.

Caranya yaitu dengan ikut serta menjaga lingkungan. Misalnya tidak membuang sampah sembarangan, tidak menggunakan banyak kantong plastik hingga tidak sering menggunakan kendaraan. Sebab asap kendaraan bagian dari pencemaran lingkungan. Melakukan daur ulang sampah, memanfaatkan hasil samping dari suatu sumber daya, yang biasanya dibuang menjadi sampah bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi sesuatu yang berguna. dan lain-lain

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran para siswa terkait lingkungan. Dimana lingkungan perlu dijaga sebaik mungkin. Perlu dijaga dari berbagai tindakan yang dapat merusak bumi. Yang jelas tindakan negatif dari manusia itu sendiri. Jadikanlah   bumi ini dapat terus indah dan dapat dipandang dan dinikmati para generasi mendatang

Semoga bermanfaat

Salam Literasi

Wassalam

Minggu, 12 Maret 2023

PENERAPAN GAYA HIDUP BERKELANJUTAN

 Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar siswa hebat?

Berjumpa lagi dengan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kali ini kita sudah memasuki tema ketiga, tema terakhir pada kelas 7. Pada waktu sebelumnya kita telah menyelesaikan tema 1 dan 2, yaitu tentang Suara Demokrasi dan Kearifan Lokal. Pada tema ketiga kita akan belajar tentang Gaya Hidup Berkelanjutan. Sudah siap dan semangat belajar?

Siswa hebat, Profil Pelajar Pancasila merupakan gambaran pelajar Indonesia yang merupakan pelajar sepanjang hayat yanag kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai- nilai Pancasila. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan pembelajarn lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan dilingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam profil pelajar Pancasila.

Berdasarkan Permendikbudristek No. 56/M/2022, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.

Tema dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Antara lain; 1) Gaya hidup bekelanjutan, 2) Kearifan local, 3) Bhineka Tunggal Ika, 4) Bangunlah jiwa dan raganya, 5) Suara demokrasi, 6) Rekayasa dan teknologi, 7) Kewirausahaan. Pada waktu sebelumnya kita telah mengambil dua tema yaitu Suara Demokrasi dan Kearifan lokal.

Dari tema-tema tersebut, yang kita pilih untuk tema ke tiga kita adalah gaya hidup berkelanjutan. Apa itu gaya hidup berkelanjutan?

Gaya hidup berkelanjutan adalah gaya hidup yang mengutamakan penggunaan energi terbarukan. Gaya hidup berkelanjutan berusaha memenuhi kebutuhannya tanpa mengubah atau mengurangi sumber energi bagi generasi berikutnya. Gaya hidup berkelanjutan ini tercermin dalam bagaimana memilih produk, perilaku, dan aktvitas yang lebih meminimalisasi sumber energi tak terbarukan dan menghasilkan energi kotor yang merusak lingkungan. Ini sebabnya gaya hidup berkelanjutan sangat ramah lingkungan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh siswa hebat untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan? Berikut adalah contoh hal-hal yang bisa dilakukan oleh siswa hebat sebagai penerapan gaya hidup berkelanjutan.

1. Membuang sampah pada tempatnya

Membuang sampah pada tempatnya patut dan harus dilakukan agar kelestarian lingkungan terjaga. Seperti yang telah diketahui membuang sampah sembarangan akan berdampak besar bagi pencemaran lingkungan.

2. Menanam pohon / hutan mangrove (bakau)

Menanam mangrove
Hutan mangrove adalah jenis hutan yang didominasi oleh tanaman-tanaman mangrove dan berada di kawasan pesisir atau bibir pantai yang menjadi tempat pertemuan air tawar dan air laut.
Hutan mangrove atau bakau yang ditanam di pinggir pantai mempunyai manfaat yang besar bagi lingkungan, antara lain; menyediakan nutrisi bagi makhluk hidup, menjernikan air dan menjaga salinitas garam, menyediakan berbagai kebutuhan obat tradisional, mencegah abrasi dan erosi tanah. Selain itu hutan mangrove juga bisa menjadi destinasi wisata yang menarik, yang disebut Ekowisata Siapkah kalian untuk menanam pohon mangrove atau tepi pantai?

3. Membawa bekal makan dari rumah

Dengan membawa bekal makanan sendiri, tidak ada sampah yang dihasilkan sebab tidak perlu membeli makanan kemasan. Selain itu, minta siswa untuk selalu menghabiskan makanan yang dibawa. Ini agar jumlah sampah makanan yang mengasilkan banyak zat karbon tidak menumpuk.

4. Memilah sampah

Untuk kegiatan memilah sampah pihak sekolah dapat menyediakan beragam tempat sampah sesuai jenis sampahnya. Jenis sampah itu mulai dari sampah organik hingga sampah anorganik. Memilah sampah akan memudahkan proses pengolahan sampah selanjutnya. Jadi, lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

5. Diet plastik

Sampah plastik adalah penyumbang sampah terbesar. Ajak siswa melakukan diet plastik sebagai bentuk gaya hidup ramah lingkungan. Caranya mulai dari membawa botol minum hingga tas belanja sendiri.

6. Mengelolah sampah


contoh ecobrik

Gaya hidup berkelanjutan juga bisa dilakukan dengan cara mengolah sampah sendiri. Misalnya sampah orgaik dikelola menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman. Atau mengelola plastic kemasan menjadi ecobrik, yang bisa digunakan sebagai bahan bagu perabotan ramah lingkungan.

7. Menggunakan transportasi ramah lingkungan

Siswa hebat dapat menggunakan trasnportasi ramah lingkungan. Misalnya, bagi siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah, ajak untuk berjalan kaki atau menggunakan sepeda saat pergi ke sekolah. Bagi yang rumahnya jauh, bisa menggunakan transportasi umum secara bersama-sama. Hal ini agar menghemat penggunaan bahan bakar fosil.

8. Menanam pohon

Siswa hebat dapat menanam pohon di lingkungan sekolah. Satu siswa satu pohon. Tak hanya menanam pohon saja, tapi siswa juga punya kewajiban untuk merawat pohon yang sudah ditanamnya. Semakin banyak pohon yang ditanam di sekolah, tentu akan semakin membuat lingkungan sekolah menjadi lestari.

9. Hemat listrik

Hemat listrik dapat dilakukan saat proses pembelajaran di kelas. Caranya dengan memanfaatkan cahaya matahari dan embusan angin. Hal tersebut dapat mengurangi pemakaian lampu dan AC di sekolah.

10. Menggunakan sumber belajar digital

Di era digitalisasi seperti ini, sumber belajar semakin mudah diakses. Dorong siswa untuk menggunakan sumber belajar digital. Sebagai contoh, buku elektronik untuk menghemat penggunaan kertas. Pembelajaran yang dilakukan pun jadi lebih ramah lingkungan karena mengurangi jumlah pohon yang ditebang untuk bahan baku kertas. Siswa dapat menjaga hutan tetap ada di masa depan.

11. Menggunakan barang sampai habis

Siswa hebat harus paham untuk selalu menggunakan barang-barangnya sampai habis. Tidak beli barang baru, kecuali dibutuhkan. Ini tak hanya menerapkan gaya hidup berkelanjutan saja, tetapi juga mendorong siswa untuk bijak berkonsumsi. 

12. Memanfaatkan bagian barang yang biasanya terbuang (hasil samping)

Siswa hebat dapat memanfaatkan bagian lain dari barang yang digunakan. Bagian barang yang biasanya dibuang tetapi bisa dimanfaatkan dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

13. Melakukan kampanye gaya hidup berkelanjutan

Siswa hebat dapat melakukan kampanye hidup berkelanjutan. Sebarkan semangat hidup berkelanjutan di lingkungan sekolah dengan berbagai media yang ada, mulai dari mading (majalah dinding) sekolah, majalah sekolah, hingga media sosial sekolah. Kampanye  akan membuat siswa semakin bersemangat untuk melakukan gaya hidup berkelanjutan. Kegiatan itu sekaligus bermanfaat untuk menyebarkan informasi pada yang lain. Dengan demikian, makin banyak orang yang melakukan gaya hidup berkelanjutan.

Demikian beberapa hal tentang bagaimana cara menerapkan gaya hidup berkelanjutan pada siswa. Semoga bermanfaat dan menjadi inpirasi  dalam mendorong siswa-siswa untuk memiliki gaya hidup berkelanjutan.

Salam dan bahagia
Wassalamualaikum

Kamis, 05 Januari 2023

AKSI NYATA MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

 



Oleh: Ratnaningsih, S.Pd.,M.Pd.

CGP Angkatan 5

Kabupaten Lamongan

 

Sebagai pemimpin pembelajaran di kelas seringkali guru dihadapkan pada beberapa situasi yang  harus dipilih sebagai suatu keputusan. Beragam situasi yang harus dipilih tersebut bisa berupa pertentangan benar dengan salah (bujukan moral) maupun antara kebenaran dengan kebenaran (dilema etika). Jika pada situasi benar lawan salah, itu bukanlah suatu kesulitan karena sudah jelas, guru harus mengabaikannya (harus tetap memilih yang benar dan meninggaklkan yang salah). Tetapi jika yang dihadapi adalah dilema etika (benar lawan benar), maka perlu diambil suatu keputusan. Pengambilan keputusan tersebut perlu memperhatikan 4 paradigma etika dan 3 prinsip pengambilan keputusan serta melalui proses 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

FACT (PERISTIWA)

Latar Belakang Tentang Situasi yang Dihadapi

Proses pendidikan di sekolah akan melibatkan  seluruh warga sekolah, termasuk dalam penyelesaian suatu permasalahan. Dalam menghadapi suatu masalah sangat penting untuk melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut, agar keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran merupakan keputusan yang terbaik. Untuk itu guru perlu memiliki ketrampilan dalam pengambilan suatu keputusan.

Pada saat melaksanakan pembelajaran IPS di kelas 7E ada salah satu murid saya beberapa hari   berturut- turut tidak mengikuti pelajaran tanpa ada keterangan. Setelah saya lihat di daftar hadir murid tersebut ternyata dalam satu minggu  sudah  4 kali tidak masuk tanpa keterangan dan pada minggu sebelumnya 2 kali. Saya konsultasi ke guru BK dan sepakat untuk memanggil orang tua/ wali murid.  Karena sudah lebih dari satu minggu tidak masuk tanpa keterangan, seharusnnya murid tersebut bisa mendapat tindakan yang lebih keras yaitu skorsing. Setelah dipanggil murid tersebut masuk sekolah. Ternyata dia tidak masuk karena menjaga dan merawat neneknya yang sedang sakit. Dia hanya tinggal berdua dengan neneknya. Orang tuanya bekerja di luar kota dan jarang pulang.

Hal ini menjadi dilema etika bagi saya sebagai wali kelas, begitu juga guru BK. Untuk itulah perlu melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut untuk mengambil keputusan. Dengan menggunakan  4 paradigma etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Penerapan 9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan

Langkah 1: Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam kasus tersebut?

Nilai yang bertentangan adalah  Nilai Keadilan lawan Rasa Kasihan

Langkah 2: Siapa yang terlibat dalam situasi ini?

Yang terlibat dalam situasi ini: Kepala Sekolah, guru, murid, orang tua/ wali murid.

Langkah 3: Apa fakta-fakta yang relevan dalam situasi tersebut?

Fakta yang relevan:

·         Murid tidak masuk tanpa keterangan lebih dari seminggu

·         Murid menjaga dan merawat neneknya yang sedang sakit, dia hanya tinggal berdua dengan neneknya. Orang tuanya kerja di luar kota dan jarang pulang.

·         Dia merasa takut masuk sekolah, neneknya belum kuat mengantar dan memenuhi panggilan sekolah.

Langkah 4: Pengujian Benar atau Salah

Uji Legal: Tidak ada penggaran hokum

Uji Regulasi: Ada aspek pelanggaran peraturan.

Uji Intuisi: Ada yang kurang tepat/ salah dalam situasi tersebut, seharusnya murid lebih mementingkan belajar dan sekolah.

Uji Publikasi: Merasa nyaman setidaknya pihak sekolah sudah memberikan kesempatan pada murid untuk tetap sekolah/ tidak diskorsing.

Uji Panutan/ Idola: Akan melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan.

Langkah 5: Jika situasinya adalah dilema etika, paradigma mana yang sesuai dengan situasi tersebut?

Paradigma yang sesuai adalah: Rasa Keadilan lawan Rasa Kasihan.

Langkah 6: Dari 3 prinsip Resolusi, prinsip mana yang akan digunakan?

Prinsip yang digunakan adalah: Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based-Thinking)

Langkah 7: Apa ada sebuah penyelesaian kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini? (Investigasi Opsi Trilema)

Jika pengambilan keputusan tersebut memakai prinsip Berpikir Berbasis Peraturan, maka sudah dipastikan murid tersebut akan mendapat skorsing dari sekolah.

Langkah 8: Apa keputusan yang akan diambil?

Keputusan yang diambil adalah:

Pihak sekolah tetap memberi kesempatan murid untuk sekolah tanpa menjalani skorsing. Dan jika orang tuanya dating dari luar kota, maka akan diundang ke sekolah.

Langkah 9: Coba lihat kembali kepputusan dan refleksikan

Keputusan yang diambil sudah sesuai dan tetap memperhatikan kepentingan murid.

 

FEELING (PERASAAN)

Perasaan saya setelah melakukan aksi nyata ini, sangat lega dan bahagia karena bisa berkolaborasi dengan guru BK menyelesaikan dilema etika dan mengambil keputusan yang tepat dan memperhatikan kepentingan murid. Bisa berkomunikasi dengan murid  (menggunakan teknik coaching) tentang permasalahan yang dihadapi.

FINDINGS (PEMBELAJARAN)

Pembelajaran yang didapat dari aksi nyata ini, sebagai pemimpin pembelajaran saya dapat mengambil keputusan yang sudah saya dapat selama menjadi CGP untuk diterapkan dalam kehidupan nyata dalam pembelajaran di sekolah.

Dengan menerapkan analisis pengambilan keputusan, maka keputusan yang saya ambil adalah keputusan terbaik yang sudah dipertimbangkan dengan matang. Dan keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan serta tetap berpihak pada murid.

FUTURE (PENERAPAN KE DEPAN)

Keputusan yang saya ambil mungkin belum sempurna, untuk perbaikan dalam pengambilan keputusan di masa depan, jika saya meghadapi dilema etika dengan kasus yang sama atau berbeda, saya akan terus mengasah kemampuan dan ketrampilan dalam pengambilan keputusan agar dapat mengambil keputusan yang lebih baik dan selalu berpihak pada murid serta dapat dipertanggungjawabkan. Tentunya dengan selalu memerhatikan paradigma dilema etika, prinsip pengambilan keputusan serta langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

 

Senin, 02 Januari 2023

KENAKALAN REMAJA

 Assalamualaikum wr. wb

Anak-anakku apa kabar?

Berikut ini akan ditayangkan artikel tentang kenakalan remaja. Sebagai referensi kalian mempelajari materi permasalahan sosial budaya. Semoga dengan tulisan kalian lebih memahami tentang kenakalan remaja dan kemudian menghindari agar kalian tidak terjerumus ke dalamnya.

Semoga bermanfaat dan tetap semangat...

Pengertian

Kenakalan remaja yaitu perilaku menyimpang dari norma-norma hukum  yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan diri sendiri dan sekitarnya.

Menurut Kartono ilmuan sosiologi, “Kenakalan remaja atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Juvenile Delinguency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.” Menurut Santrok “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.” Kenakalan remaja lebih banyak dipicu oleh sifat atau kepribadian jiwa remaja yang masih labil dan sedang mencari jati diri.

Penyalagunaan Narkoba


Ada banyak penyebab yang dapat menjerumuskan orang melakukan penyalahgunaan narkoba, antara lain rasa ingin tahu atau rasa penasaran yang besar tanpa menyadari akibatnya. (Warsidi, 2006:16).

Narkoba disebut juga narotika/ narkotik seperti opium dan ganja. Dalam dunia media  sejatinya narkotika adalah obat untuk menenangkan saraf dan menghilangkan rasa sakit. Obat ini biasa digunakan dalam dunia kedokteran pada pasien dengan gangguan saraf. Selain narkotika dikenal pula istilah “napza” yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

Apabila seseorang tanpa gejala di atas menggunakan obat tersebut di luar resep dokter maka dapat menyebabkan hilang kesadaran, kerusakan jaringan, dan ketergantungan. Penggunaan tersebut juga dapat dikenai hukuman karena termasuk perbuatan ilegal. Melawan peredaran narkotika di Indonesia artinya menyelamatkan generasi yang akan datang. Indonesia telah berhasil mengusir penjajah dan menghentikan kolonialisme. Namun, perjuangan kita belum selesai karena perang melawan narkotika adalah tanggung jawab kita semua.

Tawuran Antarpelajar

Rasa balas dendam yang dimiliki antara pelajar yang mengakibatkan tawuran. Sehingga banyak pelajar yang meninggal akibat tawuran tersebut.

Sebagai remaja, generasi penerus bangsa dan penentu peradaban, pelajar harus mampu menjadi contoh bagi mereka yang tidak berkesempatan merasakan aktivitas belajar di sekolah. Rasa dendam dan permusuhan sebaiknya tidak perlu diwariskan dari angkatan atas ke angkatan di bawahnya. Alangkah indahnya jika kita justru memupuk rasa persahabatan antarpelajar, bukan permusuhan. Kompetisi antarsekolah dapat dibuktikan dengan ajang kejuaraan yang telah disediakan oleh pemerintah. Tawuran tidak hanya merugikan warga setempat. Bahkan, jika sampai menghilangkan nyawa orang lain, ancaman hukuman kurungan dapat dijatuhkan.

Seks  Bebas

Hubungan suami istri tanpa nikah yang dilakukan di luar norma agama. (Suranto, 2009:21). Dan di dalam praktiknya, hal tersebut bisa terjadi antara satu pasangan atau satu orang dengan berganti-ganti pasangan. Seks bebas sangat merugikan bagi masa depan generasi muda.

Vandalisme

Vandalisme merupakan aksi merusak dan menghancurkan barang berharga atau karya seni lain yang bukan miliknya. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan cara mencorat-coret tembok dengan kata-kata atau gambar tanpa izin.

Menandai tembok yang bukan miliknya dengan inisial kelompoknya (dapat berupa nama kelompok, singkatan dari nama sekolah atau lainnya) juga merupakan aksi vandalisme. Hewan, kucing salah satunya, memiliki kebiasaan menandai wilayahnya dengan urin, untuk mengusir kucing lain. Hakikatnya, kita sebagai manusia yang memiliki volume otak lebih besar dibandingkan kucing, seharusnya dapat berpikir lebih panjang dan menentukan apa yang harus dan sebaiknya tidak dilakukan. Bagaimana perasaan kalian jika kalian ada di posisi sebagai pemilik tembok tersebut? Siapakah yang menanggung kerugian atas kejadian tersebut? Apakah tindakan tersebut selaras dengan cita-cita para leluhur bangsa

Penyebab Kenakalan Remaja

Perilaku nakal remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun dari luar (eksternal).

Dampak negatif

Kenakalan remaja dapat mengakibatkan dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Bagi diri sendiri mengakibatkan gangguan kesehatan. Hal ini mengakibatkan orang lain terganggu dengan kenakalan tersebut.

Cara Mengatasi Kenakalan Remaja

    • Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa di cegah atau di atasi dengan prinsip keteladanan
    • Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama
    • Kemauan orang tua untuk memenuhi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikasi, dan nyaman bagi remaja
    • Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan dengan siapa dan komunitas mana remaja harus bergaul
    • Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
Semoga bermanfaat. Selalu semangat
Pandai-pandailah mencari teman. Bertemanlah hanya dengan yang baik, yang bisa membawamu pada hal-hal yang positif. Berfikirlah berulang kali sebelum melakukan sesuatu, pikirkan apakah baik atau buruk. Karena melakukan hal-hal yang buruk hanya akan membawa kerugian.

Kamis, 29 Desember 2022

SEJARAH LOKAL

 Assalamualaikum wr.wb

Apa kabar anak-anak hebatku? Semoga kita selalu mendapat limpahan kasih dan kemudahan dari Allah SWT. Sehingga kita tetap dengan senang dan bahagia menjalani segala macam aktivitas sehari-hari. Jangan lupa tetap meluangkan sedikit waktu untuk belajar ya...

Kali ini kita akan membahas materi IPS kelas 7 tema 4 Pemberdayaan Masyarakat, sub tema Permasalahan Kehidupan Sosial Budaya, dengan sub-sub tema : Sejarah Lokal.  Bagaimana masih lanjuuuttt... Yuk lah...!

SEJARAH LOKAL

Tahukah kalian apa yang dimaksud sejarah lokal? 

Sejarah lokal artinya sejarah dari suatu “tempat”, suatu locality yang batas-batasnya ditentukan oleh suatu perjanjian tertentu yang diajukan oleh penulis atau peneliti sejarah, batasan geografisnya dapat menjadi suatu tempat tinggal sebuah suku atau bangsa yang sekarang bisa jadi telah mencakup dua atau tiga daerah administratif kota atau provinsi malahan juga dapat pula menjadi suatu desa.

Sejarah lokal dapat dirumuskan pula sebagai kisah masa lampau dari sebuah kelompok atau kelompok-kelompok masyarakat di mana terletak pada wilayah geografis yang terbatas (Abdullah, 2010:15), contohnya Kaum Paderi di Padang Barat Pulau Sumatera karya H.A. Steijn Parve, pada zaman itu keadaan dalam negeri digambarkan sebagai masyarakat yang kacau-balau, dimana hukum agama tersingkir oleh adat lembaga kuno.

Perang Paderi

Contoh lain sejarah lokal adalah kisah Sultan Nuku yang menyatukan Maluku dan Papua. Yang dikenal dengan persatuan multilultural, karena antara Maluku dan Papua memiliki kultur/ budaya yang berbeda.

Sultan Nuku Muhammad Amiruddin

Perjuangan Ratu Kalinyamat putri raja Demak yaitu Sultan Trenggana yang menjadi Bupati di Jepara. Sosok pemimpin wanita pemberani dengan armada lautnya yang kuat, terkenal dan disegani oleh Portugis. Ratu Kalinyamat tidak hanya berperan dalam mengatasi kemelut di Kesultanan Demak, tetapi juga berhasil memimpin Jepara sebagai pusat kekuasaan politik serta aktivitas perdagangan dan pelayaran pada abad ke 16.

Ratu Kalinyamat

Laksamana Keumalahayati, seorang pejuang perempuan putri Laksamana Mahmud Syah dari Kesultanan Aceh. Pemimpin armada laut Kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayatsyah Al Mukminul ini juga pernah memimpin 2000- 3.500 pasukan wanita yang disebut dengan Inong Bale. Berperang melawan Belanda pada tahun 1599 dan berhasil membunuh pemimpin Belanda Cornelis de Houtman.

Laksamana Keumalahayati

Syarif Abdurrahman merupakan raja pertama Kesultanan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Alhabib Alkadrie. Dan sekaligus beliau adalah pendiri kota Pontianak.
Sultan Syarif Abdurrahman

Sejarah Lokal yaitu kisah masa lampau dari kelompok masyarakat tertentu dari letak geografis tertentu, terkandung suatu peristiwa dalam lokasi yang kecil baik desa atau tempat tertentu atau wilayah administratif seperti kota dan kabupaten, kata lokal itu berarti menunjukan tempat atau wilayah, lokal tidak identik dengan nama kota karena lokal itu sendiri dapat juga menceritakan sebuah kelompok masyarakat.

Jadi sejarah lokal menjelaskan studi tentang kehidupan masyarakat atau komunitasnya contohnya Tionghoa dalam dinamika kehidupannya terhadap aspek kehidupan tertentu.

Bagaimana anak-anakku, apakah kalian sudah paham tentang pengertian sejarah lokal? Alhamdulillah. Kalian bisa browsing di internet untuk mencari contoh-contoh sejarah lokal yang lain. Selain pemahaman kalian tentang sejarah lokal makin meningkat, kalian juga bisa belajar dan mengambil pengalaman dari sejarah masa lalu.

Jangan malu dan anggap kuno belajar sejarah. Karena dari kisah masa lalu kita bisa ambil pelajaran. Yang negatif kita tinggalkan tidak diulang kembali. Yang positif bisa kita terapkan pada saat ini dan memperbaiki lagi untuk mencapai kesuksesan di masa depan. Karena pada dasarnya masa lalu, masa kini dan masa depan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Semoga bermanfaat...
Selalu semangat belajar..

Wassalam